[aliey]

Archive for 2008|Yearly archive page

GMNR Minta Saran Akbar Tandjung

In GMNR-News on July 13, 2008 at 12:42 pm

sumber : http://www.bangakbar.com/news/1/tahun/2008/bulan/05/tanggal/16/id/329/

Jumat, 16 Mei 2008 20:36:00
GMNR Minta Saran Akbar Tandjung
Kategori: Dari Redaksi

Jakarta – Gerakan Mahasiwa Nasionalis Religius (GMNR), sebuah gerakan mahasiswa yang segera dideklarasikan, bertemu dengan Akbar Tandjung untuk meminta saran dan penilaiannya. Pertemuan tersebut dilakukan di Akbar Tandjung Institute, Jum’at (16/5).

Konsep gerakan ini lahir karena sebuah kegelisahan anak – anak muda yang perduli terhadap masa depan bangsa yang pro reformasi dan demokrasi,” ujar Ir. Akmal Budi Yulianto, Ketua Umum GMNR. Keluarnya nama dan konsep gerakan ini sendiri berawal dari sekitar September 2007.

Berdasarakan blog resmi GMNR, GMNR diharapkan mampu menjadi solusi alternatif sebagai organisasi pengkaderan dan recruitment bagi calon pemimpin bangsa. Pada proses perjalanannya berharap bahwa gerakan yang akan dilakukan oleh GMNR adalah gerakan untuk menuju arah perbaikan bangsa di tengah arus Globalisasi yang menyandera nilai – nilai kebudayaan dan identitas asli bangsa .

“Kami ingin mendidik kader nasionalis religius yang juga memperhatikan aspek politk dan iptek,” ujar Maman Abdulrahman, KABID EKSTERNAL Energi dan Sumber Daya Mineral. Niat tersebut terlihat dari struktur kepengurusan mereka. Seperti, Agraria, Informasi & Teknologi, dan Hukum dan HAM.

“Saya melihat prospek gerakan ini sekitar lima sampai sepuluh tahun kedepan,” lanjut Maman Abdulrahman. GMNR sendiri rencananya secara resmi akan dideklarasikan sekitar akhir Mei hingga awal Juni.

Menanggapi semua penjelasan Pengurus GMNR, Akbar Tandjung memberikan apresiasi yang baik. “Bagaimana supaya kalian bisa memperlihatkan identitas baru sebuah gerakan mahasiswa. Kalau bisa, GMNR bisa menampung apa yang tidak bisa disalurkan mahasiswa oleh gerakan mahasiswa saat ini,” ucap Akbar Tandjung memberi nasehat. Akbar pun menyatakan kesediaannya untuk terus memberi saran kepada GMNR.

(gees)

Personnel GMNR

In SDM-GMNR on February 18, 2008 at 12:30 am

Para Personnel GMNR adalah :

1. Akmal B.Y

Akmal B.Y

2. Faisal Anwar

Faisal Anwar

3. Maman Abdurrahman

4. Ronald

5. Andi Megawanto

6. Julianda Al Fitra

7. Susi

8. Zaki

9. M.Yusuf

10.Sara

11.Andi Kusuma

12. Fathul

13.Syafaat Perdana

14. Yossi

15. DLL

…. (DLL belum diterima update terakhir)

Sambutan Peringatan HUTIV Partai Demokrat

In Nas- Reg on February 13, 2008 at 1:53 pm

Sambutan pada Peringatan HUT ke 4 Partai DEMOKRAT

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HUT KE-4 PARTAI DEMOKRAT
ARENA PRJ KEMAYORAN, 9 SEPTEMBER 2005

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Ketua Umum Partai Golkar, Bapak Muhammad Jusuf Kalla, yang kita tahu juga Wakil Presiden Indonesia,
Yang saya hormati Saudara Ketua Umum Partai Demokrat beserta Ibu,
Yang saya hormati para Tamu Undangan diantaranya para Pimpinan Partai-partai Politik dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya muliakan para Ulama, Cendekiawan, Budayawan dan Tokoh-tokoh Masyarakat,
Hadirin sekalian yang saya hormati,

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang cukup baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat berada di tempat ini untuk bersama-sama memperingati hari ulang tahun Partai Demokrat yang ke-4.

Sembilan September hari ini memang cukup semarak. Pertama, tadi pagi, kita bersama-sama memperingati Hari Olahraga Nasional. Kemudian, tadi siang, di depan Istana Merdeka juga dimeriahkan oleh unjuk rasa. Malam hari ini kita memperingati ulang tahun dari Partai Demokrat.

Unjuk rasa itu bagian dari demokrasi. Saya membaca spanduknya, saya mendengar apa yang disampaikan, saya harus mendengar, sebagaimana saya juga mendengar pandangan-pandangan yang lain, saya berkomunikasi dengan rakyat, melalui radio, SMS dan lain-lain. Pendek kata, mendengar dari banyak pihak, itu selalu membawa kebaikan. Tentu tidak mungkin saya harus mengikuti satu per satu apa yang diinginkan. Tapi kita pilih mana yang menurut ukuran yang tepat, bermanfaat bagi sebagian besar rakyat kita, dan tentunya bagi masa depan bangsa dan negara kita.

Sesungguhnya saya tidak ingin berpanjang lebar dalam sambutan saya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini, tetapi tentu baik kalau dalam kesempatan seperti ini saya ingin memberikan, paling tidak ingin mengajak dan menyampaikan sesuatu, utamanya kepada Keluarga Besar Partai Demokrat, baik para anggota Dewan Pembina, maupun para pimpinan dan anggota Dewan Pimpinan, baik di pusat maupun di daerah.

Hadirin sekalian,
Pertama-tama tentu saya juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Keluarga Besar Partai Demokrat di seluruh tanah air, di manapun Saudara berada. Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas telah kita masukinya usia keempat dari partai ini. Tetapi sadarilah bahwa perjalanan partai ini masih jauh dan masih panjang. Empat tahun, usia yang relatif muda, Partai Demokrat harus banyak belajar, belajar dan belajar. Saya senang, kalau dalam masa konsolidasi dan perkembangan partai, partai ini juga belajar, menimba pengalaman dari partai lain di negeri kita. Bahkan saya juga senang mendengar, justru juga dibuka komunikasi dengan partai-partai lain di luar negeri. Marilah kita menjadi bagian dari pemekaran demokrasi dengan budaya demokrasi yang baik. Baik menurut ukuran universal, baik pula bagi ukuran bangsa dan negara kita sendiri.

Tugas besar yang harus dilaksanakan oleh jajaran partai sekarang ini adalah konsolidasi dan kemudian membangun partai ke depan, menuju sesosok partai yang baik, baik dalam arti yang luas. Saya meminta pimpinan partai untuk melakukan konsolidasi sungguh-sungguh di seluruh wilayah tanah air, di provinsi, di kabupaten, di kota, bahkan sampai lapisan bawah masyarakat kita.

Berkonsolidasi artinya benar-benar membangun partai yang dapat mengemban amanah demokrasi. Partai yang dekat dengan rakyat, mendengar aspirasi mereka dan berjuang untuk memenuhi aspirasi itu. Dengan konsolidasi yang tekun, yang gigih dan yang sabar, diikuti dengan pembangunan partai yang konseptual, terencana dengan aksi-aksi yang nyata, saya yakin, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Partai Demokrat makin ke depan akan tumbuh menjadi partai yang dibanggakan oleh kita semua.

Saya juga ingin mengingatkan, atas ideologi dan idealisme partai. Ingat, partai ini harus tetap bertumpu pada nilai, jati diri dan konsensus-konsensus dasar yang telah diletakkan oleh para pendiri republik dan para pendahulu. Kita kenal ada empat konsensus dasar, satu Pancasila, kedua Undang-Undang Dasar 1945, yang kita lihat semuanya tercermin dalam pembukaannya, yang ketiga Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem negara kesatuan, dan yang keemat adalah bhinneka tunggal ika. Jangan sampai perkembanagn partai keluar dari empat konsensus dasar yang telah kita tetapkan sejak berdirinya partai ini.

Saya juga mengingatkan, partai ini adalah partai nasionalis religius. Artinya partai yang cinta kepada bangsa dan tanah airnya, dan yang juga terus menjalankan kegiatan yang religius, yang dapat membangun moral, akhlak dan perilaku yang baik. Dan saya ingatkan pula, bahwa ada tiga idealisme yang harus kita junjung tinggi, sebagai roh, sebagai jiwa dari pergerakan partai ini. Pertama adalah nasionalisme, kedua adalah humanisme, dan yang ketiga pluralisme, hidup rukun dalam kemajemukan. Saya minta, kapanpun partai ini bergerak, ke manapun tumbuh dan berkemban, jangan tinggalkan ideologi dan idealisme yang saya sampaikan tadi.

Kemudian saya mengajak, saya meminta kepada para pimpinan partai, kalau pemerintah, kalau negara sekarang ini terus membangun menuju good government, tata pemerintahan yang baik, saya minta Partai Demokrat pun dalam konsolidasi dan pembangunannya juga mempraktekkan tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang responsif, pemerintahan yang transparan, pemerintahan yang akuntabel, dan pemerintahan yang efisien serta produktif dalam mengemban tugas-tugasnya. Saya ingin karakter, ciri dan sifat-sifat seperti itu juga melekat pada tubuh Partai Demokrat. Mulai dari sekarang, jangan suatu saat, ada diantara kita yang tidak tanggap, yang tidak konsisten untuk mempraktekkan good government di dalam kehidupan Partai Demokrat ini.

Saya juga ingin dalam rangka pengembangan demokrasi lebih lanjut, sekarang ada pemilihan-pemilihan kepala daerah, berkontribusilah dengan baik. Ajukan calon-calon kepala daerah yang tepat. Jangan karena faktor-faktor yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, Partai Demokrat mengajukan calon yang nyata-nyata tidak tepat dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Setelah itu, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, berkompetisilah dengan sangat keras. Tetapi apabila tidak berhasil, terimalah itu sebagai keniscayaan demokratis. Tetapi kalau berhasil, jadikan itu amanah, bahwa kader Partai Demokrat atau calon yang didukung Partai Demokrat benar-benar mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan oleh rakyat di daerah itu.

Dan saya minta, kepada jajaran Partai Demokrat di seluruh Indonesia, yang kebetulan tidak berhasil di dalam pemilihan kepala daerah, dukunglah dengan penuh, siapa pun yang menjadi kepala daerah di wilayah itu, dari partai manapun, dukunglah, berkontribusilah. Silahkan menyampaikan kritik kepada kepala daerah-kepala daerah itu, apabila tidak tepat kebijakan dan langkah yang ditempuh. Berikan solusi. Tetapi kalau kebijakan dan langkah yang ditempuh, dukunglah, karena semuanya tiada lain adalah untuk kepentingan rakyat kita.

Kemudian, yang ingin saya sampaikan juga, situasi nasional yang kita hadapi sekarang ini, sebagaimana dijelaskan oleh Saudara Ketua Umum Partai Demokrat, memang penuh dengan tantangan. Tahun 2005 ini adalah tahun yang berat. Ada tsunami, ada krisis, minyak sedunia. Harga minyak dalam kurun waktu sekitar dua tahun meroket, dari 25 dolar per barel, 30, 35, 40, 55, 60, 65, dan bahkan sekarang pada kisaran 70 dolar. Ini memukul ekonomi di banyak negara, terutama di Asia. Meskipun dunia juga mengalami perlambatan pertumbuhan, Saudara mengikuti media massa, mengikuti siaran-siaran media, baik di dalam maupun di luar negeri, di Eropa, di Amerika, di Jepang pun, ada faktor-faktor yang memperlambat pertumbuhan ekonomi, lebih-lebih Asia, karena Asia itu pada prinsipnya masih diberikan subsidi, baik subsidi langsung kepada minyak dan BBM, subsidi kepada pengelola atau … minyak, padaan kita ataupun bentuk-bentuk lain. Kalau negara yang tidak mengenal subsidi sudah terpukul dengan ekonomi kita, negara-negara Asia juga lebih terpukul karena dua faktor tadi. Indonesia, lebih terpukul lagi, karena subsidi yang berikan selama ini memang cukup besar, apalagi dengan pertumbuhan harga minyak yang tinggi, nilainya, nominalnya, memang juga cukup besar.

Itulah yang kita hadapi, berpengaruh pada nilai tukar, berpengaruh pada APBN, berpengaruh pada defisit dan lain-lain. Kita akan mencari solusi. Tidak ada pilihan yang ideal, karena keadaannya serba sulit. Tapi tidak mungkin pemerintah tidak memilih, tidak mengambil pilihan dan menetapkan kebijakan. Inilah yang sedang kita lakukan sekarang ini.

Memang banyak faktor yang harus kita pertimbangkan. Ketika pemerintah mempertimbangkan dengan seksama, apa solusi yang harus kita ambil, dengan jelas saya katakan waktu itu, dalam kapasitas saya sebagai kepala pemerintahan, saya jelaskan pada kader Partai Demokrat bahwa, kita memang harus menjalankan langkah yang simultan, langkah moneter juga dilakukan, langkah fiskal dilakukan, kebijakan investasi dikembangkan dan demikian juga kebijakan energi. Salah satu yang menjadi wacana sekarang, kenaikan harga BBM.

Kenaikan harga BBM, dari segala sudut memang opsi yang tidak bisa dielakkan. Tetapi persoalannya bagi pengambil keputusan pada tingkat pemerintahan, bukan kapan BBM akan naik, berapa banyak BBM itu akan dinaikkan, bagaimana proses tahapan atau road map-nya, tetapi yang penting bagi pengambil keputusan dan yang sekarang sedang dijalankan siang dan malam adalah, apabila suatu saat ada kenaikan bahan bakar minyak, harus kita pastikan mereka yang paling terkena, yang paling mendapatkan dampak dari kenaikan itu harus mendapatkan bantuan yang tepat, bantuan yang signifikan. Kita sedang menghitung, berapa puluh juta saudara-saudara kita yang miskin dan yang setengah miskin, yang patut mendapatkan bantuan itu. Kita harus cermat, sebelum BBM betul-betul dinaikkan.

Kita juga harus melakukan langkah-langkah agar ketersediaan bahan pokok itu ada. Kita harus berbuat sesuatu agar harga sembako juga bisa dikelola. Kita harus berpikir bagaimana dampaknya terhadap angkutan, kita harus berpikir bagaimana dampaknya terhadap perusahaan dan lain-lain. Pendek kata, yang kita kerjakan sekarang ini, untuk memastikan apabila pilihan-pilihan itu kita ambil secara rasional, dengan pendekatan ekonomi, aspek sosial, politik dan keadilan, hendaknya tidak kita abaikan. Dalam konteks itulah sebenarnya sekarang pemerintah sedang bekerja untuk memastikan bahwa, apapun yang diambil, kita menjalankan tugas-tugas yang semestinya, terutama membantu Saudara-saudara kita, komunitas yang tertinggal, rakyat kecil dan Saudara-saudara kita yang masih tergolong miskin.

Itulah yang menjadi inti permasalahan. Saya berterima kasih kepada Partai Demokrat yang memberikan dukungan apapun yang digiring oleh pemerintah. Tetapi percayalah pemerintah tidak akan gegabah, sembrono, begitu saja mengambil keputusan, tanpa dipertimbangkan secara menyeluruh, dan tanpa melakukan langkah-langkah untuk membantu mereka yang paling terkena dampak dari kenaikan bahan bakar minyak itu.

Kemudian yang terakhir, saya mengajak, saya berpesan kepada seluruh kader dan anggota Partai Demokrat untuk tegakkan kebenaran dan keadilan. Di seluruh wilayah Indonesia, sampaikan kalau itu benar, sampaikan kalau itu membawa keadilan. Berikan kritik kalau itu tidak benar dan tidak adil, dalam mengelola kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini. Orang yang mengutamakan kebenaran dan keadilan akan muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sesungguhnya apa, yang diketahui inti permasalahannya, dan bagaimana kita bisa memecahkan masalah itu. Kembalilah pada lubuk hati, hati nurani, apa sesungguhnya yang menjadi inti masalah dengan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan tadi.

Yang kedua, saya meminta, kader Partai Demokrat di seluruh tanah air, jelaskan kepada rakyat keadaan yang sesungguhnya. Jangan dininabobokan, jangan diberikan angina surga, ini keadaannya seperti ini, karena ini akibatnya ini, dan jelaskan pula apa jalan keluar, solusi dan langkah-langkah yang semestinya ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi masalah itu. Jelaskan, jelaskan dan jelaskan kepada mereka.

Yang ketiga, saya senang, ulang tahun kali ini sederhana, dan memang saya meminta lebih banyak kegiatan sosial di seluruh Indonesia, dan dalam suasana seperti ini, teruslah dekat dengan rakyat. Bantulah rakyat kita, apapun yang bisa dibantu. Dengan demikian, Partai Demokrat memang lahir dari masyarakat kita, dari rakyat kita yang mengerti persoalan mereka, dan dalam batas kemampuan yang kita miliki, kita juga memberikan bantuan kepada mereka.

Kemudian yang keempat, bantu pemerintah. Saya sebagai Ketua Dewan Pembina, bantu pemerintah, jangan ada tafsir lain. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, baik provinsi, kabupaten maupun kota. Siapapun yang memimpin pemerintahan itu, bantu dengan sepenuh hati.

Kemudian yang terakhir, saya juga berharap, ada peran konstruktif dari Fraksi Partai Demokrat yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat kita. Lakukan itu dengan konstruktif, kritis, memberikan solusi, bersama-sama mengatasi keadaan. Saya ingin kematangan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrat, di manapun Saudara berada, tunjukkan bahwa Saudara betul-betul ingin menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi bagian dari masalah.

Dan instruksi khusus saya, harapan saya kepada Saudara sekalian, melewati Pimpinan Partai Demokrat, pada saatnya nanti tentu ada kenaikan bahan bakar minyak. Pilihan yang tidak mudah, pilihan yang pahit, pilihan yang tidak popular, tetapi demi ekonomi kita, demi memecahkan masalah yang kita hadapi ini, pertumbuhan kita ke depan, maka pilihan itu tidak bisa hindari. Tetapi sebagaimana saya katakan tadi, pemerintah akan memperhatikan semua hal untuk membantu Saudara-saudara kita, utamanya kaum miskin yang perlu mendapatkan bantuan, saya minta kepada semua kader dan bahkan anggota Partai Demokrat di seluruh tanah air, ikutlah melakukan pengawasan, ikutlah membantu, ikutlah monitor. Kalau ada penyimpangan, keganjilan, segera disamapaikan kepada yang bersangkutan.

Ini penting, agar Saudara juga peduli, merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat kecil. Oleh karena itu, saya sungguh berharap, Partai Demokrat menjadi pelopor di seluruh Indonesia, untuk sekali lagi, memastikan bahwa upaya pemerintah untuk membantu mereka, yang harus kita bantu itu, dapat terlaksana dengan baik.

Itulah, Bapak, Ibu, Hadirin sekalian, yang dapat saya sampaikan pada ulang tahun Partai Demokrat yang keempat ini. Kepada Saudara-saudara dari partai politik lain, kita dapat meningkatkan kerjasama untuk melakukan sesuatu yang terbaik, dalam kehidupan bangsa dan negara kita. Dalam demokrasi, diniscayakan ada perbedaan-perbedaan diantara kita. Harapan saya, perbedaan politik, sikap politik, pandangan politik itu, tidak lantas memisahkan kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia yang harus terus bersilahturahim, membangun persahabatan, kerukunan dan harmoni di antara kita semua.

Itulah Hadirin sekalian yang dapat saya sampaikan, Dirgahayu Partai Demokrat! Mari kita membangun bangsa dan negara bersama komponen bangsa yang lain.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan

Partai Demokrat Tetapkan Yudhoyono Sebagai Capres

In Nas- Reg on February 13, 2008 at 1:51 pm

…………………

Nasionalis-Religius
Menyinggung tentang target konstituen Partai Demokrat, dikatakan, seluruh rakyat bangsa Indonesia yang cinta bangsanya dan bertuhan (nasionalis-religius).
Isu yang akan diangkat sebagai ”jualan’ kepada para pemilih (voters) seperti penegakan HAM. Karena isu ini masih sangat relevan mengingat begitu banyak pelanggaran HAM di Indonesia.”Orang berbicara mengenai HAM, tetapi menginjak HAM orang lain. Itulah realita di negeri ini,” ujar Budhisantoso.
Selain itu, isu yang tak kalah penting adalah keadilan sosial (social justice). Alasannya, masalah keadilan sosial tidak menjadi prioritas selama ini. Yang selalu dibicarakan adalah supremasi hokum yang pada akhirnya, tidak ada penegakan hokum sehingga tidak ada keadilan sosial.
Untuk menarik dukungan publik, PD tidak akan melakukan langkah unjuk kekuatan melainkan dengan cara yang elegan dan simpatik. Sebab PD sendiri mengandalkan the silent majority power.
Partai Demokrat dinyatakan berdiri pada tanggal 9 September 2001 di Jakarta, dan baru akan dideklarasikan pada bulan Mei mendatang. Hingga kini sudah ada 21 DPD yang terbentuk, dan kemungkinan masih akan bertambah. (mic) (Sumber:Sinar Harapan)

Tidak sekadar Nasionalis-Religius, Soekarno Juga Pembaharu Islam

In Nas- Reg on February 13, 2008 at 1:26 pm

Tidak sekadar Nasionalis-Religius, Soekarno Juga Pembaharu Islam

(catatan untuk Ibnu Djarir)
Menarik membaca tulisan Ibnu Djarir berjudul “Pandangan Bung Karno tentang Islam” (wawasan, 1/6/2004). Dalam artikel itu Ibnu Djarir menulis, Soekarno adalah seorang nasionalis tulen, yang memiliki begitu banyak pengagum, pendukung, dan (penganut fanatik) yang ingin meneruskan dan melaksanakan perjuangannya.
Proklamator dan Orator ulung itu, begitu dikenal tidak hanya oleh orang Indonesia, tetapi juga di belahan bumi lain. “… di Mekkah dan Madinah, hingga kini masyarakat arab lebih mengenal nama Ahmad Soekarno daripada nama pemimpin yang lain,” tulis Ibnu Djarir.
Ibnu Djarir, dalam tulisannya itu juga mengulas tentang bagaimana (seharusnya) Islam dalam pandangan soekarno, dan memaparkan ide-ide pokok yang disarankan Soekarno.
Tentang Nasionalisme
Soekarno memang tokoh yang unik dan sangat jenius. Ia juga terkenal sangat populis dan membenci yang namanya kapitalisme-kolonialisme-imperialisme. Ia belajar tentang nasionalisme, tidak hanya dari buku-buku yang banyak dibacanya. Namun, ide, semangat, dan rasa nasionalismenya juga muncul dari pergulatan dan perenungannya atas realitas yang menimpa rakyatnya pada waktu itu.
Marhaenisme, misalnya, adalah ide yang dikemukakan setelah ia bertemu dengan seorang petani miskin bernama Marhaen, yang akhirnya digunakan untuk menyebut ‘ajarannya’ sebagai sosialisme marhaenisme. Yaitu sosialisme yang berangkat dari realitas bangsa Indonesia sendiri, bukan sosialisme marxisme, yang menginginknan terwujudnya negara tanpa kelas.
Berbicara tentang ide nasionalisme Soekarno, banyak buku yang bisa menjelaskannya. Diantaranya kita dapat menemukan pada Lahirnya Pancasila dalam Mr. Soepardo DKK, Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia” (1962).
Namun, dalam mendefinisikan nasionalisme, ia banyak dipengaruhi oleh pendapat Renan, Otto Bauer, dan Ki Bagoes Hadikusumo atau Munandar. (Badri Yatim, 1985).
Renan berpendapat, nasionalisme yaitu kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri satu, dan mau bersatu. Otto beranggapan, bangsa adalah satu kesatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib. Sedang Ki Bagoes Hadikusumo atau Munandar berpendapat, nasionalisme adalah persatuan antara orang dan tempat.
Dari ketiga tokoh tersebut, akhirnya Soekarno membuat definisi tentang apa itu nasionalisme. Hingga, Ia sampai pada kesimpulan, nasionalisme itu terdiri dari rasa ingin bersatu, persatuan peranagi dan nasib, serta persatuan antara orang-orang dan tempat.
Bahkan, dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” (1965), ia tidak hanya mendefinisikan nasionalisme secara umum seperti dipahami oleh Renan, Otto dan Ki Bagoes Hadikusumo atau Munandar. Dalam salah satu ‘karya monumentalnya’ itu, ia bahkan mengemukakan tentang nasionalime islam.
“Di mana-mana orang Islam bertempat, bagaimanapun juga jauhnya dari negeri tempat kelahirannya, di dalam negeri yang baru itu, ia masih menjadi satu bahagian daripada rakyat islam. Di mana-mana, disitulah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya. Inilah nasionalisme Islam,” tulisnya.
Kalau mau memahami secara seksama dan mendalam, sebenarnya apa yang kemukakan Soekarno, tidak lebih adalah penggambaran dari kehidupan Rasulullah Muhammad Saw, pada waktu di Madinah, setelah Hijrah dari Makkah dan membentuk pemerintahan di negeri yang awalnya bernama Yatsrib itu. Di mana ditekankan dan diajarkan pada saat itu, semua merasa setiap orang islam adalah saudara, sehingga harus saling hidup berdampingan, bahu-membahu, dan tolong menolong dalam memajukan pemerintahan dan kemakmuran madinah. Laiknya satu tubuh, jika salah satu anggota badannya sakit, maka sakitlah seluruh badannya.
Tentang Islam
Soekarno memang tidak terdidik di lembaga pendidikan berbasis agama. Sewaktu belajar, ia lebih banyak bergelut dengan dunia keilmuan dan realitas sosial yang menindas, yang sangat menyesakkan dadanya, akibat penjajahan yang dilakukan Belanda. Ia sangat dekat dengan rakyat kecil. Bahkan, ketika masih belajar di ITB, ia terkenal sering mengunjungi pelosok-pelosok desa untuk mengetahui dan melihat secara langsung kehidupan rakyatnya yang sangat miskin dan tertindas.
Namun bukan berarti, ia nol dan tidak paham agama. Karena, seperti ditulis Ibnu Djarir, ia justru belajar agama pada tokoh-tokoh agama waktu itu; KH. Achmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, KH. Mas Mansoer, dan KH. A. Hassan, disamping belajar sendiri dari buku-buku yang dibacanya.
Dalam pandangannya, Islam adalah agama duniawiyah dan rohaniyah sekaligus (Badri Yatim, 1985). Sehingga, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Islam sendiri mengajarkan agar kaum muslimin tidak menafikan kehidupan duniawi. Mendahulukan akhirat boleh dan sah-sah saja, tapi non nense mengabaikan dunia. Karena dunia adalah tempat menanam amal akhirat yang akan dipetik hasilnya kelak (ad-dunya mazra’atul akhirat).
Baginya, Islam adalah agama yang sempurna, yang memuat prinsip-prinsip keadilan, tolong menolong, persamaan hak (egaliter), dan persaudaraan.
Uniknya, Soekarno melihat Islam dari sisi dunia. Seperti ditulis Fachry Ali dalam pengantarnya di buku “Soekarno, Islam dan Nasionalisme” karya Badri Yatim. Soekarno melihat Islam dari sisi dunia. Dari realitas yang terjadi dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. “Salahkah Soekarno melihat islam dari sudut pandang dunia?”
Lebih lanjut Fachry menulis, salahkah Soekarno yang menjadi orang Jawa terlebih dahulu, dan berdasarkan itu ia melihat Islam?
Pembaharu
Ada banyak kritik yang dikemukakan Soekarno berkaitan dengan Islam, yang hingga kini, agaknya masih perlu dicermati dan ditindaklanjuti. Seperti ketika ia mengemukakan sebuah statemen, bahwa hadits tidak harus dijadikan dasar hukum. Karena banyak juga hadits-hadits yang diragukan kesahihannya alias hadits dlaif. Juga statemen yang mengatakan bahwa islam adalah agama duniawiyah dan rohaniyah sekaligus.
Apa yang dikemukakannya, adalah upaya untuk mengurai adanya dikotomi dunia-akhirat yang dipahami masyarakat selama ini. Bahwa dunia dan akhirat, tidaklah terpisah, tetapi saling melengkapi. Keduanya harus sama-sama diperjuangkan dan diraih; fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirah hasanah.
Baginya, Islam penuh dengan ide-ide perubahan. Karenanya, tidak heran jika umat Islam selama tujuh abad lamanya, mampu memegang kendali peradaban dunia, yaitu pada masa the glory of islam atau dikenal pula the golden age of islam. Karena itu, masa keemasan islam yang kini hilang itu, harus direbut kembali. Karena islam adalah agama perubahan dan kemajuan.
Seperti tertuang dalam salah satu suratnya yang dikirim kepada A. Hassan dari Endeh. “Islam is progress. Islam itu kemajuan. Begitulah telah saya tulis dalam surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardlu, kemajuan karena sunnah, tetapi juga karena kemajuan, karena diluaskan dan dilapangkan oleh aturan jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batas zaman.”
Berangkat dari kritik dan ide-ide pembaharuan yang dilontarkan Soekarno itulah, saya melihat, bahwa Ia tidak sekadar seorang nasionalis-religius, tetapi juga seorang pembaharu Islam di Indonesia. Salah seorang pembaharu Islam sebagaimana Ahmad Wahib, yang dikenal pemikiran-pemikirannya lewat catatan hariannya yang dibukukan oleh sahabatnya setelah ia meninggal; Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Juga sebagaimana Harun Nasution yang mentransfer ide-ide pembaharuannya lewat dunia akademik (IAIN), seperti memasukkan mata kuliah filsafat dan metodologi penelitian, yang sebelumnya tidak diajarkan. Juga lewat karyanya “Islam Rasional”.
Atau, bisa juga disamakan dengan Mukti Ali, yang mencoba membuka paradigma para kaum muda pada tahun 80-an lewat lembaga diskusi ‘limited group’ yang didirikannya. Dimana para aktifisnya, sampai kini terkenal sangat kritis dan progressif. Salah satu ‘alumninya’ adalah Ahmad Wahib sendiri, dan juga Djohan Effendi. Bahkan, Cak Nur (Nurcholish Majid) sebenarnya juga pernah aktif di limited group.
Yang jelas, sekali lagi, Soekarno adalah sosok yang tidak sekadar nasionalis-religius, tapi juga seorang pembaharu. Tinggal, bagaimana kini kita meneruskan dan memperjuangkan apa-apa yang telah dilontarkannya, dan tokoh pembaharu Islam lainnya.

Koran Sore WAWASAN

Juni 2004

soekarno.jpgsoekarno.jpg

Nasionalis-Religius Jadi Komoditas Politik : Suara Merdeka

In Nas- Reg on February 13, 2008 at 1:18 pm
Rabu, 12 Mei 2004 PEMILU 2004
Line

Nasionalis-Religius Jadi Komoditas Politik

SEMARANG – Nasionalis-religius menjadi komoditas politik dalam Pemilu 2004. Beberapa partai politik (parpol) mencoba menawarkan formula tersebut untuk meraih dukungan massa. Fenomena itu terejawantahkan dengan kemunculan Partai Demokrat. Partai yang dipimpin Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu sanggup membaca peluang tersebut dengan baik. Tak heran jika pada akhirnya mereka mendapatkan suara cukup signifikan bagi sebuah partai politik baru.

Hal itu dikatakan salah seorang Ketua PP Muhammadiyah Pof Dr Din Syamsuddin dalam sarasehan nasional bertema ”Membongkar Gerakan Politik Nasionalisme Religius dalam Konstelasi Pemilu 2004” yang diselenggarakan Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KMSW) dan BEM IAIN Walisongo di Auditorium I Kampus I IAIN Walisongo, Selasa (11/5).

Dalam situasi politik Indonesia, kata dia, dua aliran besar yakni Islam dan nasionalis sama-sama tidak sanggup mendominasi. Formula nasionalis-religius akan senantiasa efektif. Nasionalis-religius, lanjut Dien Syamsudin, merupakan modifikasi politik aliran yang selama ini berkembang di Indonesia. Setelah tereliminasi sepanjang masa Orde Baru, fenomena politik tersebut kembali muncul ke permukaan. ”Setelah reformasi, politik aliran muncul kembali. Ini realitas politik yang menandai bangkitnya kecerdasan masyarakat,” kata dia.

Orientasi politik umat Islam saat ini telah bergeser. Jika dulu golongan santri memilih partai Islam, kini hal itu tidak lagi dapat dipastikan. Din menunjukkan data bahwa keluarga besar Muhammadiyah yang memilih PAN hanya 32%, selebihnya memilih PKB 19% dan Golkar 20%. Lalu, di Jawa Tengah, sembilan anggota PMII menjadi caleg Golkar. ”Orientasi Islam kita cenderung mengikuti slogan Cak Nur: Islam yes, partai Islam no,” tutur Din.

Masih Sedikit

Kaum abangan pun, katanya, masih sedikit yang memilih partai Islam atau partai yang berbasis umat Islam. Sekalipun mereka telah menyatakan sebagai partai pluralis, dukungan dari kalangan abangan tetap kecil.

Sementara itu, Prof Dr Said Agil Siradj menilai kecenderungan politik Nahdlatul Ulama (NU) sebagai nasionalis-religius. Dia menunjukkan fakta bahwa pada masa lalu para kiai berjuang lebih berlandaskan semangat nasionalisme. ”Tentara Sekutu di Semarang dapat dikalahkan oleh semangat nasionalisme rakyat yang sebagian besar nahdliyyin.”

Lebih lanjut kata dia, secara terminologi, nasionalisme dengan religius tidak dapat dipetakan dalam kerangka hitam putih. Dalam tataran sosial, tidak ada perbedaan antara keduanya. ”Banyak kalangan abangan yang bersih dan jujur, sedangkan tidak sedikit pula kelompok religius yang melakukan KKN,” tuturnya. (roe-78e). Dari : Suara Medeka

N/R : Sebuah Optimisme atau Pesimisme

In Nas- Reg on February 13, 2008 at 1:10 pm

NASIONALISME RELIGIUS


Sebuah Optimisme atau Pesimisme ?

Luthfi Kamil*

Sejak runtuhnya negara-negara sosialis yang identik dengan ambruknya sistem komunisme, kapitalisme berada diatas angin. Sejarah seakan-akan membuktikan pembenaran bahwa ideologi kapitalisme mengalami kemenangan selama era perang dingin. Fenomena ini diperkuat penyataan Robert Heilbroner, seorang ekononom terkemuka di Amerika yang dikenal sebagai pembela sosialisme,” pertarungan kapitalisme dan sosialisme sudah berakhir. Sosialisme keok dan kapitalisme menang” (Mizan. Mencari ideologi Alternatif:38). Kapitalisme yang sekarang banyak dianut Barat memberikan pengaruh luas bagi tatanan dunia.

Meskipun demikian, dengan berakhirnya perang dingin ternyata tidak menyurutkan adanya konflik dan pertentangan-pertentangan baru. Dengan dominasi politik Amerika saat ini, dan muncul kebijakan-kebijakan baru negara-negara Barat pada umumnya, mulai terjadi gesekan-gesekan yang selain positif juga berpotensi bagi timbulnya sikap reaktif-negatif. Isu-isu universal, peran ganda politik Barat, monopoli ekonomi dan kampanye persamaan kultural sedikit banyak telah menciptakan sebuah asumsi bahwa Barat berusaha menempatkan dirinya untuk memiliki hak-hak prioritas pada bagian dunia lainnya. Dan kenyataan ini menjadi bukti empirik ketika kepentingan-kepentingan Barat banyak mencampuri urusan negara lain. Peristiwa kemenangan pemilu kaum nasionalis Islam di Aljazair (FIS) yang digagalkan oleh dukungan Barat bersama kekuataan Militer, kegagalan politik Watergate, Irangate, Perang Vietnam, Perang Teluk, pembantaian “etnis” di Bosnia sampai masalah kegagalan sosial para wanita yang menikah, perceraian, rasialisme dan kegagalan-kegagalan ekonomi yang berkaitan dengan resesi dan defisit yang terus menerus, khususnya timbulnya krisis ekonomi belum lama ini di negara-negara Asia, sedikit banyak memberikan pengaruh bagi timbulnya bentuk pelepasan dan bangkitnya “konfrontasi” baru terhadap Barat. Kegagalan Barat baik secara sosial, politik maupun pada lini budaya (yang banyak berbeda dengan dunia lain) akhirnya semakin melemahkan posisinya dimata negara-negara berkembang dan dunia ketiga. Sebab nilai-nilai dan pemikiran yang menjadi jargon utama dalam kampanyenya mempengaruhi kebijakan global lebih banyak terlihat menjadi satu kekuatan untuk meloloskan kepentingan-kepentingan yang menguntungkan bagi negara Barat pada umumnya. Untuk itu hegemoni Barat yang mendominasi lebih terlihat sebagai kebijakan semu daripada kenyataan yang seharusnya ada. Dan kenyataan ini mendapat respons yang sebaliknya. Barat yang membawa nilai-nilai sekular, yang tentunya tidak dapat digeneralisasikan bagi belahan dunia lainnya, karena perbedaan nilai kultur, sejarah, tradisi, etnis dan nilai agama akhirnya sudah semestinya menyadari bahwa proses modernisasi yang selama ini lebih banyak didominasi terhadap globalisasi nilai Barat tidak sepenuhnya relevan dan bersifat kosmis. Dan karena banyak hal, kenyataan diatas memciptakan perkembangan baru dengan munculnya revitalisasi baru secara global yang dipimpim kaum agamawan. Kebangkitan kaum religius ini bersifat politis yang menggerakkan sebuah proses nasionalisme yang terjadi di negara-negara Asia-Afrika.

Identitas parokhial yang didasarkan pada ikatan etnik-religius ini mulai melebar diberbagai belahan dunia. Identitas ini disebut sebagai identitas kaum nasionalis religius, yang selain istilah ini menolak kata fundamentalisme yang lebih banyak bersifat menuduh secara sentimen-negatif, juga menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepentingan agama, sekaligus politik. Ledakan gerakan nasionalisme religius ini terjadi di wilayah-wilayah Asia; Afghanistan, Aljazair, negara-negara di Afrika, Mongol, Tajikistan, Israel, Mesir, Palestina, Iran, India, Sri Langka, Indonesia, Malaysia dan negara-negara Asia Tengah lainnya yang tergabung dalam Persemakmuran Negara-Negara Merdeka. Gerakan kaum nasionalis religius juga mengantarkan sukses revolusi seperti di Iran, Sudan, Afghanistan, Tajikistan, Nikaragua (Juergensmeyer; 18,235-7[1993]. Istilah nasionalisme, yang dipahami bukan sebagai ideologi politik sekular semata, tetapi juga bentuk organisasi politik tertentu: negara-bangsa modern Eropa-Amerika, yang diikat oleh sistem politik demokratis yang terpusat, menyeluruh dan tidak dipengaruhi oleh pertalian-pertalian etnik, kultural dan religius apapun akhirnya hanya menjadi paradigma kacamata Barat semata. Sebab ternyata konsep tersebut berangkat secara terbatas dari konstruksi Barat dan kenyataan empirik menggagalkan premis dan menyimpulkan bahwa nasionalisme ternyata memiliki dimensi kultural-religius. Seperti yang diamati Benedict Anderson bahwa munculnya nasionalisme sekular merupakan perluasan dari sistem kebudayaan besar yang mendahuluinya. Dari situ-sekaligus melawan itu-ia muncul. Dengan bangkitnya identitas nasionalisme religius, maka memberikan lukisan bahwa upaya purifikasi dari sebagian pemimpin religius dari nilai-nilai sekular Barat terjadi. Namun demikian, menurut penulis, semua upaya diatas tidak berangkat dari sikap reaksioner yang total, sehingga menutup kemungkinan sepenuhnya dari nilai positif yang berkembang di Barat. Tapi tak lebih, merupakan usaha yang mengarah pada satu bentuk sintesa antara nilai-nilai tatanan sosial yang bersaing, yang selama ini dipahami barat dan diyakini kaum nasionalisme religius. Contoh konkretnya adalah adanya diskursus dan sikap menerima wacana demokrasi dalam pemikiran kaum agamawan. Kaum nasionalisme religius melandaskan pemikirannya diatas moralitas dan spiritual yang bersifat transenden. Dan menghindari janji-janji kaum nasionalis sekular yang memang lebih matrealistik.

Tentu munculnya fenomena nasionalisme religius telah sedikit banyak menarik hegemoni nasionalisme sekular yang berkembang selama ini. Menurut Jürgen Habermas, kenyataan bahwa krisis kepercayaan terhadap nasionalisme sekular merupakan ” krisis legitimasi modern”, dimana penghargaan masyarakat terhadap institusi politik dan sosial merosot diseluruh dunia. Namun barangkali dengan munculnya bentuk komunalisme ini semakin mengukuhkan adanya korelasi yang tidak sepenuhnya berlaku dengan apa yang ditawarkan oleh nilai sekular terhadap kaum nasionalis religius selama ini sehingga masyarakat mereka memberikan dukungan dan melihat bahwa situasi sosial dan ekonomi tidak dapat digeneralkan seperti yang berlaku di Barat. Tentu fenomena ini bisa memberikan plus minus bagi masa depan dunia. Satu sisi kenyataan ini memberikan bukti bahwa nilai universal yang selama ini tampak berkembang bersifat dogmatis dan mengantarkan kepentingan-kepentingan pihak tertentu, maka sudah seharusnya direinterpretasikan ulang dengan penyesuaian bukti dan faktor empiris yang terus berkembang, sehingga bentuk-bentuk kediktatoran terselubung dengan monopoli ataupun hegemoni kepentingan tertentu bisa terhapuskan. Namun pada saat yang sama, ada persoalan yang tidak sederhana jika sebuah upaya purifikasi dan revitalisasi dalam ikatan sejarah-kultural ditopang dalam bungkus entitas agama ataupun etnis menciptakan Idealisme baru yang dibangun diatas keterpisahan kenyataan yang akhirnya menciptakan bentuk-bentuk “kemenangan sesaat” dan terperangkap dalam obsesi yang memisahkan antara pikiran dan jasad. Untuk itu keduanya merupakan ranjau-ranjau yang mencemaskan bagi kemanusiaan kita, dan sudah selayaknya dihindarkan. Meskipun demikian, kenyataan munculnya nasionalisme religius semakin mengukuhkan ramalan Tocqueville pada abad 19 bahwa “agama nasionalisme sekular yang aneh”, sebagaimana Islam, membanjiri seluruh dunia dengan nabi-nabi, orang-orang militan, dan para syuhada. Dan sekaligus menggugurkan penegasan Francis Fukuyama, diantaranya bahwa akhir Perang Dingin lama telah mengantarkan ke “akhir sejarah” dan konsensus ideologis seluruh dunia terhadap demokrasi liberal sekular. Wallahua’lam.dari situs ini .

*Student TFH Berlin Jurusan Tekhnologi Pangan

Nasionalis – Religius

In Nas- Reg on February 5, 2008 at 7:42 pm

Nasionalis dan Religius sebagai sebuah nama, icon dan memilki konotasi berlandaskan potret bangsa Indonesia yang majemuk,pluralis,beragam,berbeda tetapi juga memiliki jiwa dan rasa yang kuat terhadap nilai – nilai moral , ketuhanan, idealisme dan juga semangat untuk selalu menjaga keutuhan bangsa dan negara dalam kerangka UUD 45 dan Pancasila .

Tidak bisa dipungkiri mengenai rasa memilki yang kuat, rasa cinta tanah air yang tidak dipaksakan terhadap Indonesia secara utuh dan integral , Sebagai sebuah negara yang terdiri atas Sumber Daya Alam yang sangat banyak . Luasnya lahan untuk pertanian , berladang dan laut yang tiada henti dihasilkan produksi ikan laut untuk bisa dikonsumsi . Sebuah negara katulistiwa yang kaya raya .

Namun hari ini , sedang dilanda persoalan yang besar dalam bidang perekonomian , lingkungan hidup dan krisis kepercayaan serta kebingungan di tengah khalayak kiri kanan depan belakang dari negara tetangga maupun negara seberang . Demokrasi dan reformasi harus lanjut terus , untuk tidak lagi menoleh ke belakang , mencari kesalahan , mencari dendam dan menambah persoalan bangsa . Duduk kan pada posisi yang pas dan tepat maka persoalan bangsa akan bisa dituntaskan.

Mental dan semangat kemandirian harus dipupuk terus demi menjaga dan menguatkan jiwa dan spirit bangsa dan masyarakat . Jangan bergantung terhadap asing dan mau diintervensi dari upaya – upaya kepentingan sesaat dan golongan .

Indonesia dengan potensi resources(SDM) berjumlah hampir 200juta orang adalah asset yang luar biasa . Tinggal bagaimana porsinya harus dibagi antara pemimpin , rakyat , pengusaha / bisnis , elemen professional , aparatur dan birokrat , ulama, dll . Mesin cetaknya juga harus dipersiapkan dengan baik dan matang sehingga produk yang bisa dihasilkan akan maksimal dan bisa muncul ke permukaan sebagai expert yang tidak bisa disepelekan . Sebagai negoisator ulung dan ahli hitung dan analis yang mampu mengambil peran maksimal dalam level , nasional maupun internasional . (/akmal budi yulianto)

Hello world!

In Index on February 5, 2008 at 6:57 pm

Welcome to Our Blogs!

GMNR

[Gerakan Mahasiswa Nasionalis Religius]

Gerakan Mahasiswa Nasionalis Religius

Nasionalis Religius !

email: republikgmnr@yahoo.co.id

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.